Saat syahadat-ku sebatas ucapan..
Saat shalat-ku sebatas gerakan..
Saat shaum-ku sebatas kewajiban..
Saat zakat-ku sebatas keharusan..
Saat haji-ku sebatas kebanggaan..
Saat itu pula...
Kesia-siaan terbesar ada pada diriku.
Saat islam-ku sebatas pakaian..
Saat iman-ku sebatas ucapan..
Saat ihsan-ku sebatas pengetahuan..
Saat itu pula...
Ada penipuan terbesar dalam diriku.
Saat kematian dianggap hanya cerita..
Saat neraka dianggap hanya berita..
Saat siksa dianggap hanya kata..
Saat itu pula...
Kesombongan terbesar ada padaku.
Saat takdir dianggap tak mungkin..
Saat hidup kembali dipandang mustahil..
Saat Tuhan dianggap nihil..
Saat itu pula...
Kedurhakaan terbesar ada pada diriku.
Bukankah aku memiliki hati?
Bukankah aku memiliki jasmani?
Dan bukankah aku memiliki akal budi?
Maka harmoniskanlah semuanya, Ya Rabbi..
Semata hanya untuk-Mu.
Saat shalat-ku sebatas gerakan..
Saat shaum-ku sebatas kewajiban..
Saat zakat-ku sebatas keharusan..
Saat haji-ku sebatas kebanggaan..
Saat itu pula...
Kesia-siaan terbesar ada pada diriku.
Saat islam-ku sebatas pakaian..
Saat iman-ku sebatas ucapan..
Saat ihsan-ku sebatas pengetahuan..
Saat itu pula...
Ada penipuan terbesar dalam diriku.
Saat kematian dianggap hanya cerita..
Saat neraka dianggap hanya berita..
Saat siksa dianggap hanya kata..
Saat itu pula...
Kesombongan terbesar ada padaku.
Saat takdir dianggap tak mungkin..
Saat hidup kembali dipandang mustahil..
Saat Tuhan dianggap nihil..
Saat itu pula...
Kedurhakaan terbesar ada pada diriku.
Bukankah aku memiliki hati?
Bukankah aku memiliki jasmani?
Dan bukankah aku memiliki akal budi?
Maka harmoniskanlah semuanya, Ya Rabbi..
Semata hanya untuk-Mu.